“PROSES PEWAHYUAN AL-QUR’AN”
Bab 1
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Sebagai Umat Islam mungkin kita sudah mengetahui apa itu Al-Qur’an
maka Al-Qur’an itu sudah tidak asing lagi dengan kita sebagai kaum muslimin.
Kata Al-Qur’an menurut bahasa yang berarti “Bacaan” dan ada pun Definisi Al-Qur’an ialah Kalam
Allah SWT yang diturunkan melalui malaikat jibril as kepada nabi Muhammad SAW
untuk pedoman hidup bagi Umat manusia dan barang siapa yang membacanya adalah
ibadah. Al-Qur’an diturunkan kemuka bumi ini tidak secara langsung melainkan
berangsur – angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dan dalam hal ini Al-Qur’an
diturunkan dalam 2 priode yaitu :
1.
Priode
mekah
2.
Priode
madinah
Pada periode mekah Al-Qur’an diturunkan sebanyak 86 surat 4.780
ayat dan pada priode madinah sebanyak 28 surat 1.456 ayat. Oleh
karena itu kita harus mengimani Al-Qur’an sebagai kitab kita karena Al-Qur’an
itu adalah pedoman bagi hidup umat manusia untuk menuju kejalan kebenaran.
B.Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk menambahkan wawasan kepada umat islam
semua khususnya dan umumnya kepada seluruh umat manusia. Agar bisa mengimani
Al-Qur’an sebagai kalamu Allah SWT yang dikirim melalui malaikat jibril as untuk
nabi Muhammad SAW.
Bab 2
A. Kondisi masyarakat mekah menjelang Al-Qur’an
diwahyukan
Masyarakat arab menjelang
diturunkannya Al-Quran, tidak merasa aman dan akrab melihat perubahan –
perubahan yang terjadi pada saat itu terutama perubahan dibidang Agama. Sejak
berabad abad mereka menyenbah berhala – berhala, baik pada waktu pemukiman
yahudi mau pun upaya – upaya kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir.
Kehadiran kaum yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisir tersebarnya
ajaran injil dengan melalui dua tahapan yaitu :
1.
Dengan
memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan arab, untuk itu, mereka
membuat penghalang antara ekspansi kristen ke utara dan penghuni kaum penyembah
berhala disebelah selatan.
2.
Para
penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama yahudi
dalam memaukan cerita – cerita legendaris kedalam agama mereka.
Pada abad ke
empat masehi masuklah agama keristen ketanah arab melalui Siria dan Ethiopia.
Agama Yahudi pun mendapatkan pengikut ditanah Arab. Kondisi bangsa Arab sebelum
Al-Qur’an diturunkan sangat memperihatinkan sekali karena sebagian suku arab
menyembah berhala dengan bentuk yang berbeda-beda. Jumlah berhala yang bangsa
arab sembah sekitar 360 berhala yang semuanya itu terletak disekeliling Ka’bah.
Setiap suku mempunyai berhalanya sendiri. Selain itu terdapat juga patung nabi
Ibrahim as dan nabi Isa Al Masih, Dan Hubal sebagai berhala suku Quraisy.
Berhala – berhala itu terbuat dari batu akik (safir/giok/intan) dan batu hitam.
Sebelum
Al-Qur’an diturunkan para pakar mensepakati bahwasanya Zaman bangsa arab dahulu
bisa disebut sebagai Zaman jahiliyah[1], Zaman
jahiliyah ini meliputi dua priode yaitu :
v Priode Zaman jahiliyah pertama
v Priode Zaman jahiliyah kedua
Zaman jahiliyah pertama meliputi waktu yang sangat panjang, tetapi
tidak banyak diketahui tentang hal ini yang dikarnakan sejarah pendukungnya
yang sudah lenyap. Dan adapun pada Zaman jahiliyah kedua yang diperkirakan 150
tahun sebelum islam dilahirkan.
Kata jahiliah berasal dari kata jahl [2]tetapi
yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm[3],
melainkan lawan dari hilm.[4]
Dan pengertian hilm ini Al-Hilm yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa al-Hilm adalah seseorang
mengendalikan dirinya ketika marah. Jika terkena marah dan dia dalam keadaan
kuasa, maka dia berlaku hilm, tidak menghukum dan terburu-buru menghukum.
Sehingga pernyataan tersebut bisa kita pahami
bahwa secara fisikal bangsa Arab mempunyai kualitas otak yang tidak bodah dalam
arti sempit, hal ini bisa dibuktikan dengan tradisi hafalan yang kuat dan
tradisi membuat syair indah. Sehingga definisi jahiliyah ini dimaknai dari
perspektif yang berbeda. Dan para pakar sepakat bahwa kebodohan yang dimaksud
adalah kebodohan dalam arti khusus tentang keyakinan terhadap ketuhanan yang
salah.
Kalau kita mengulang kisah bahwa keyakinan bangsa arab
dulunya merupakan penganut ajaran Tauhid dari nabi Ibrahim, karena sebagian
besar bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il a.s. yang menyeru kepada agama
bapaknya, Ibrahim a.s yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya. Setelah Nabi Ibrahim as meninggal Bangsa Arab
mulai berantakan mereka mulai menyembah – nyembah berhala dan meninggalkan
ajaran Nabi Ibrahim as.Dan disebutkan bahwa lama kelamaan banyak diantara
mereka yang melalaikan ajaran agama Isma’il as putra dari Nabi Ibrahim as
meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama
Ibrahim.
B. TAHAPAN TURUNYA AL-QUR’AN
1. Tahap Pertama
Diturunkan dari
lauhul mahfuuzh menurut cara dan waktu yang mengetahuinya hanya Allah dan siapa
yang diperlihatkannya akan hal-hal yang gaib. Al-Qur’an diturunkan sekaligus
dan tidak terbagi-bagi. Yang demikian terlihat dari lafadnya dan dalil dari
Al-Qur’an, karena firman-Nya:
وَاللهُ مِن وَّرَاءِهِم مُحِيط بَل هُوَ قُراَنُ مَّجِيدٌ فِي لَوحِ
مَّحفُوظ.(البروج:20-23)
Artinya:
“ (20). Padahal
Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos), (21). Bahkan
(yang didustakan) ialah al-Qur’an yang mulia, (22). Yang (tersimpan) dalam
(tempat) yang terjaga ( Lauhul Mahfudzh)”. (QS. Al-Buruj: 20-23)
2. Tahap kedua
Dari Lauhul
Mahfudzh ke Baitul ‘Izzah dilangit dunia. Berdasarkan hasil bacaan terhadap
ayat-ayat al-Qur’an yang telah dibaca, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa
ia diturunkan dalam suatu malam kelangit dunia. Ia disifatkan oleh al-Qur’an
dengan Lailati Mubaarakatin ( malam yang diberkahi Allah). Malam itu
kadang-kadang dinamakan malam Qadar. Kejadian itu pada bulan Ramadhan dan
diturunkan sekaligus, diantara ayat-ayat itu ialah:
اِنَّا اَنزَلنَاهُ فِي لَيلَةِ القَدرِ [5]
Artinya: “ Sesungguhnya
kami telah menurunkannya pada malam Qadar.
شَهرُ رَّمَضَا نَ اَّلذِي اُنزِلَ فِيهِ القُراَنَ[6]
Artinya: Bulan
Ramadhan yang telah diturunkan padanya Al-Qur’an.
3. Tahap
Ketiga:
Al-Qur’an
diturunkan dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) kebumi kehati para Nabi dan Rasul
terakhir, yaitu Rasul SAW. Ini ialah tahap terakhir yang bercahaya padanya
kemnausiaan, secara keseluruhan, bagi semua manusia dibumi. Ia dibawa oleh
jibril. Ia dinamakan al-Amin atau terpercaya kedalam hati Rasulullah SAW. Berangsur-angsur
dalam masa 23 tahun, sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Termasuk dalilnya
ialah:
Artinya: Turun
dengannya (Al-Qur’an) malauikat jibril ke dalam hatimu (Muhammad), supaya
engkau jadi pemberi nasihat, dari hadirat yang Maha Bijaksana dan Maha
Mengetahui.
Jibril,
sebagaimana telah kami katakan, bahwa dia adalah pengantara. Diwahyukan Allah
kepadanya Al-Qur’an menurut cara yang mengetahuinya hanya Allah saja dan siapa
yang diizinkan-Nya mengetahuinya. Sudah itu, maka Jibril turun dengannya kepada
Rasul SAW.
وقرانا فرقنه لتقراه على الناس على مكث ونز لنه تنزيلا[8]
Artinya: Al-Qur’an
itu kami turunkan ia berangsur-angsur, supaya engkau (Muhammad) bacakan ia
kepada manusia perlahan-lahan dan kami turunkan ia sebenar-benarnya atau
kesemuaanya.
C.
Para pencatat
Al-qur’an
Rasulullah telah mengangkat para penulis wahyu
Qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Mu’awiyah, Ubai bin ka’ab,
dan Zaid bit sabit. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka menuliskannya dan
menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembaran
itu membantu penghafalan di dalam hati. Di samping itu sebagian sahabat pun
menuliskan Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa di perintah
oleh nabi; mereka penulisannya pada pelepah kurma, lempenngan batu, daun
lontar, kulit atau daun kayu, pelanah, potongan tulang belulang binatang. Zaid
bin sabit berkata: “kami meyusun Qur’an dihadapan rosulullah pada kulit
binatang.”[9]
Ini menunjukan betapa besar kesulitan yang
dipikul para sahabat dalam menuliskan al-Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup
tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut
Jibril membacakan alquran kepada rasulullah
pada malam-malam bulan ramadlan setiap turunya. Abdullah bin Abbas berkata yang
artinya:
“rasulullah adalah orang paling pemurah, dan
puncak keramahanya pada bulan ramdan ketika ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui
jibril pada setiap bulan Ramadan; jibril membacakan Qur’an kepadanya, dan
ketika rasulullah ditemui oleh Jibril itu ia sangat pemurah sekali.”[10]
Para sahabat senantiasa menyodorkan al- qu’an
kepada rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.
Tulisan- tulisan qu’an pada masa nabi tidak
terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh
yang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di
antaranya Ali bin Abio tholib, Mu’as bin Jabal, Ubai bin Ka’b, zaid bin Sabid
dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafal isi al qur’an dimasa rasulullah. Dan
mereka menyebutkan pula bahwa zaid bin sabid adalah orang yang terakhir kali
membacakan alqur’an di hadapan nabi di antara mereka yang di sebutkan di atas.
Rasulullah berpulang ke rahmatullah di saat
alqur’an telah di hafal dan ditulis dalam mushaf dengan susunan seperti yang di
sebutkan di atas; ayat-ayat dan surat-surat di pisah-pisahkan, atau di
terbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surat berbeda dalam satu lembaran secara
terpisah dan dalam tujuh huruf,[11]
tetapi Qur’an belum dikumpulkjan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap).
Bila wahyu turun segeralah dihafal oleh qurra dan ditulis oleh para penulis;
tetapi pada saat itu belum diperlukan pembukuannya dalam satu mushaf, sebab
nabi masih selalu menunggu turunya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu
terdapat pula ayat yang menashih
(menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib
penulisan alqur’an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang
turun di tulis di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk nabi – ia menjelaskan
bahwa ayat itu harus di letakkan dalam surah itu. Andaikata qur’an itu din
seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian
tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun loagi. Az-Zarkasyih berkata: “
qur’an tidak di tuliskan dalam satu mushaf pada zaman nabi agar ia tidak
berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu penulisanya kemudian sesudah al
qur’an itu sudah turun semuanya, yaitu dengan wafatnya rasulullah.”
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang
diriwayatkan dari Zaid bin Sabid yng mengatakan: “Rasulullah telah wafat,
sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali. “maksudnya ayat-ayat dan
serat-suratnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mkushaf. Al-Khattabi
berkata: ‘Rasulullah tidak mengumpulkan al qur’an dalam satu mushaf itru Karena
ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaanya.
Sesudah berakhir masa turunya dengan wafatnya Rasulullah.. maka allah
mengilhamkan penulisanya mushaf secara lengkap kepada Khullafa’ur Rasyiddin
sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan
pemeliharaannya.[12] Dan
hal ini terjadi pertama pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.”[13]
Pengumpulan qu’an dimasa nabi dinamkan:
a.
Penghafalan
b.
Pembukuan yang
pertama.
D.
Apa yang diturunkan
(lafadz, makna atau keduanya)
Ulama Ushul
mendefinisikan sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah kalam Allah swt. yang
diturunkan oleh Allah dengan perantara Malaikat Jibril ke dalam hati Rasullah
Muhammad bin Abdullah dengan lafadz-lafadz (kata-kata) bahasa Arab dan dengan
makna yang benar, agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa beliau adalah Rasul
Allah swt dan undang-undang bagi manusia yang mengambil petunjuk-Nya, dan
sebagai awal ibadah dengan membacanya, ia ditadwinkan di antara dua tepian
mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah diakhiri dengan surat An-Nas,
dinukilkan kepada kita dengan jalan mutawatir, baik dengan bentuk tulisan atau
lisan dari satu generasi ke generasi lain, terpelihara dari segala perubahan
dan pergantian (tidak seperti Al-Qur'an standard nasional yang berubah dari
segi
tulisan)".
Diantara keistimewaan Al-Qur'an ialah lafadz dan maknanya dari sisi Allah swt. dan lafadz yang berbahasa Arab itu diturunkan oleh-Nya ke dalam hati Rasul-Nya. Sedangkan Rasul tidak lain adalah membacakan Al-Qur'an dan menyampaikannya.
Diantara keistimewaan Al-Qur'an ialah lafadz dan maknanya dari sisi Allah swt. dan lafadz yang berbahasa Arab itu diturunkan oleh-Nya ke dalam hati Rasul-Nya. Sedangkan Rasul tidak lain adalah membacakan Al-Qur'an dan menyampaikannya.
Dari keistimewaan ini bercabanglah hal-hal
seperti berikut:
a. Makna-Makna yang diilhamkan oleh Allah swt kepada Rasul-Nya dan tidak diturunkan lafadz-lafadznya, bahkan Rasulullah saw. yang mengungkapkan dengan bahasanya (lafadz) sendiri terhadap sesuatu yang diilhamkan kepadanya. Hal ini tidak dianggap Al-Qur'an. Dan hukum-hukum Al-Qur'an tetap baginya. Begitu juga tetap juga hadits Qudsi adalah diucapkan oleh Rasul yang diceritakan dari Allah tidak termasuk Al-Qur'an. Tidak pula tetap hukumnya dalam shalat dengan menggunakan hadits Qudsi.
a. Makna-Makna yang diilhamkan oleh Allah swt kepada Rasul-Nya dan tidak diturunkan lafadz-lafadznya, bahkan Rasulullah saw. yang mengungkapkan dengan bahasanya (lafadz) sendiri terhadap sesuatu yang diilhamkan kepadanya. Hal ini tidak dianggap Al-Qur'an. Dan hukum-hukum Al-Qur'an tetap baginya. Begitu juga tetap juga hadits Qudsi adalah diucapkan oleh Rasul yang diceritakan dari Allah tidak termasuk Al-Qur'an. Tidak pula tetap hukumnya dalam shalat dengan menggunakan hadits Qudsi.
b. Tafsir surat atau ayat dengan lafadz-lafadz Arab sebagai sinonim lafadz-lafadz Al-Qur'an, yang bisa memberikan makna seperti lafadz asalnya, tidak termasuk Al-Qur'an meskipun penafsiran itu sudah sesuai dengan makna (dalalah) yang ditafsiri. Oleh karena Al-Qur'an adalah lafadz-lafadz Arab khusus diturunkan dari sisi Allah swt.
c. Terjemah surat atau ayat ke dalam bahasa asing [14]juga tidak dianggap sebagai Al-Qur'an, meskipun dalam menerjemah itu dipelihara ketelitiannya dan penyempurnaan persesuaian makna dengan yang diterjemahkan. Karena Al-Qur'an adalah lafadz yang khusus diturunkan dari sisi Allah swt, jadi bila penafsiran Al-Qur'an atau penerjemahnya itu dianggap sempurna lantaran dilakukan oleh ulama yang sudah perpercaya agamanya, ilmu, amanah dan kepercayaannya, maka bolehlah dianggap bahwa penafsiran atau penerjemahan ini sebagai penjelas makna Al-Qur'an atau sebagai tempat kembali [15] mengenai maknanya tetapi tidak dianggap sebagai Al-Qur'an, tidak pula tetap hukum-hukum Al-Qur'an. Maka tidak bisa dijadikan hujjah dalam bentuk ungkapannya (bahasanya) atau keumuman lafadznya maupun kemutlakannya. Oleh karena lafadz-lafadz ibaratnya (bahasanya) itu bukanlah lafadz atau bahasa Al-Qur'an, tidak sah shalat dengannya (terjemahan Al-Qur'an), begitu juga tidak dianggap ibadah membacanya.
Keistimewaan yang lain, yaitu bahwa Al-Qur'an disampaikan secara mutawatir, artinya dengan system pemindahannya yang mendatangkan pengetahuan dan kepastian kebenaran riwayat.
E.
Kesimpulan
Bangsa Arab sebelum datangnya Islam mereka sangat keliru dengan apa
yang mereka semua lakukan yaitu menyembah berhala maka dari sanalah bangsa Arab
dahulu disebut dengan orang – orang jahiliyah. Kata jahiliyah ini bukan berarti
bodoh dalam tingkah laku atau pun fikirannya karena bangsa arab dahulu mereka
mereka merantau ke penjuru negeri untuk berjualan dengan demikian tidak mungkin
jika mereka bodoh. Kata bodoh di sini berarti bodoh dalam cara beribadah ke
pada Allah.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an dengan tiga tahapan yaitu : 1. Allah
SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke lauhul mahfudz tanpa terpisah – pisah. 2.
Dari Lauhul mahfudz diturunkan ke baitul ‘izzah (langit dunia) ulama
menafsirkan diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada
malam lailatul Qadr. 3. Dari langit dunia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
melalui malaikat Jibril as dengan cara berangsur – angsur agar memudahkan Nabi
dan para umatnya utuk menghafalnya dan Al-Qur’an itu turun sesuai dengan
kejadian yang sedang terjadi.
Pencatat Al-Qur’an pada zaman Rasul yaitu:
Ali, Muawiyah, dan Zaid bin tsabit, dan Ubai bin Ka’ab mereka yang menulis Ayat
– ayat Al-Qur’an dan selain mereka para Sahabatpun menuliskan Ayat – ayat
tersebut tanpa di suruh oleh Rasulullah SAW. Pada masa itu mereka menuliskan
Al-Qur’an di tulang benulang, pelepah kurma, kulit hewan, di batu, dll.
Al-Qur’an adalah perkataan Allah SWT yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malikat Jibril as dengan cara
mutawatir sehingga jelas diketahui bahwa ayat – ayat tersebut berasal dari
Allah SWT. Al-Qur’an adalah lafadz dan maknanya jelas berasal dari Allah SWT
berbeda halnya dengan Hadis Qudsi atau Hadis ilahi. Ulama berbeda pendapat
tentang Hadis Qudsi tersebut ada sebagian ulama yang mengatakan Hadis Qudsi
lafadznya dari Allah SWT sedangkan maknanya dari Rasul dengan alasan Allah SWT
yang memberikan Hadis Qudsi tersebut kepada Rasul melalui mimpi atau ilham dan
Rasul yang menyampaikan kepada umatnya dengan redaksi atau maknanya Rasul
sendiri akan tetapi ada ulama yang mengatakan maknanya dari Allah sedangkan
lafadznya dari Rasul dengan alasan Rasul menyampaikan Hadis Qudsi tersebut
kepada umatnya dengan lafadznya sedangkan maknanya tersebut berasal dari Allah
SWT.
Daftar Pustaka
Rifa’i. Ahmad, Tarikh Islam.
Ponorogo: Darussalam Press. 1425 H
Badri. Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada. 1993
Khalil Al-Qattan. Manna, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Semarang: Litera Nusantara. 1995
Shihab. M Quraish, Mu’jizat Al-Qur’an. Bandung: mizan. 2007
Zaid. Nasr Hamid Abu, Tekstualitas Al-Qur’an. Yogyakarta:
LkiS. 2005
[1] . Zaman
Jahiliyah ialah suatu zaman yang mana manusia itu Bodoh dalam bidang tauhid dan
beribadah kepada Allah SWT. Jadi, orang-orang pada zaman jahiliyah tidak tahu
apa itu tauhid dan tidak pernah beribadah kepada Allah SWT, dan mereka
beribadah kepada Berhala.
[2] Jahl
suatu kata dari bahasa arab yang berarti bodoh.
[3]. ‘Ilm
ialah suatu kata dari bahasa arab yang bararti berilmu / tidak bodoh.
[4]. Hilm :
yang dimaksud hilm ini ialah bisa mengendalikan amarah.
[5] . Q.S
Al-Qadr : 1
[6] . Q.S
Al-Baqarah : 185
[7] . Q.S
Assyu’ra’ : 193
[8] . Q.S
Al-isra : 106
[9] Hadist
riwayat al-hakim dalam al-mustadrak dengan sanad yang memenuhi persyaratan
bukhari dan muslim
[10] Muttafaq
‘alaih.
[11]
Mengenai tujuh huruf ini akan dijelaskan kemudian.
[12] Ini
suatu isyarat kepada firman Allah: “ sesungguhny kamilah yang menurunkan
Qur’an, dan kami pula akan menjaganya.”
[13] Al-itqan
jilid 1 , halaman 57
[15] . (tempat
berpegang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar