Minggu, 12 April 2015

PROSES PEWAHYUAN AL-QUR'AN


“PROSES PEWAHYUAN AL-QUR’AN”
Bab 1
Pendahuluan

A.Latar Belakang

Sebagai Umat Islam mungkin kita sudah mengetahui apa itu Al-Qur’an maka Al-Qur’an itu sudah tidak asing lagi dengan kita sebagai kaum muslimin. Kata Al-Qur’an menurut bahasa yang berarti “Bacaan”  dan ada pun Definisi Al-Qur’an ialah Kalam Allah SWT yang diturunkan melalui malaikat jibril as kepada nabi Muhammad SAW untuk pedoman hidup bagi Umat manusia dan barang siapa yang membacanya adalah ibadah. Al-Qur’an diturunkan kemuka bumi ini tidak secara langsung melainkan berangsur – angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dan dalam hal ini Al-Qur’an diturunkan dalam 2 priode yaitu :
1.      Priode mekah
2.      Priode madinah
Pada periode mekah Al-Qur’an diturunkan sebanyak 86 surat 4.780 ayat dan pada priode madinah sebanyak 28 surat 1.456 ayat.   Oleh karena itu kita harus mengimani Al-Qur’an sebagai kitab kita karena Al-Qur’an itu adalah pedoman bagi hidup umat manusia untuk menuju kejalan kebenaran.


B.Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk menambahkan wawasan kepada umat islam semua khususnya dan umumnya kepada seluruh umat manusia. Agar bisa mengimani Al-Qur’an sebagai kalamu Allah SWT yang dikirim melalui malaikat jibril as untuk nabi Muhammad SAW.


Bab 2

  A.  Kondisi masyarakat mekah menjelang Al-Qur’an diwahyukan

Masyarakat arab menjelang diturunkannya Al-Quran, tidak merasa aman dan akrab melihat perubahan – perubahan yang terjadi pada saat itu terutama perubahan dibidang Agama. Sejak berabad abad mereka menyenbah berhala – berhala, baik pada waktu pemukiman yahudi mau pun upaya – upaya kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. Kehadiran kaum yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisir tersebarnya ajaran injil dengan melalui dua tahapan yaitu :
1.      Dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan arab, untuk itu, mereka membuat penghalang antara ekspansi kristen ke utara dan penghuni kaum penyembah berhala disebelah selatan.
2.      Para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama yahudi dalam memaukan cerita – cerita legendaris kedalam agama mereka.

Pada abad ke empat masehi masuklah agama keristen ketanah arab melalui Siria dan Ethiopia. Agama Yahudi pun mendapatkan pengikut ditanah Arab. Kondisi bangsa Arab sebelum Al-Qur’an diturunkan sangat memperihatinkan sekali karena sebagian suku arab menyembah berhala dengan bentuk yang berbeda-beda. Jumlah berhala yang bangsa arab sembah sekitar 360 berhala yang semuanya itu terletak disekeliling Ka’bah. Setiap suku mempunyai berhalanya sendiri. Selain itu terdapat juga patung nabi Ibrahim as dan nabi Isa Al Masih, Dan Hubal sebagai berhala suku Quraisy. Berhala – berhala itu terbuat dari batu akik (safir/giok/intan) dan batu hitam.

Sebelum Al-Qur’an diturunkan para pakar mensepakati bahwasanya Zaman bangsa arab dahulu bisa disebut sebagai Zaman jahiliyah[1], Zaman jahiliyah ini meliputi dua priode yaitu :
v  Priode Zaman jahiliyah pertama
v  Priode Zaman jahiliyah kedua

Zaman jahiliyah pertama meliputi waktu yang sangat panjang, tetapi tidak banyak diketahui tentang hal ini yang dikarnakan sejarah pendukungnya yang sudah lenyap. Dan adapun pada Zaman jahiliyah kedua yang diperkirakan 150 tahun sebelum islam dilahirkan.

Kata jahiliah berasal dari kata jahl  [2]tetapi yang dimaksud disini bukan jahl  lawan dari ilm[3], melainkan lawan dari hilm.[4] Dan pengertian hilm ini Al-Hilm yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa al-Hilm adalah seseorang mengendalikan dirinya ketika marah. Jika terkena marah dan dia dalam keadaan kuasa, maka dia berlaku hilm, tidak menghukum dan terburu-buru menghukum.
Sehingga pernyataan  tersebut bisa kita pahami bahwa secara fisikal bangsa Arab mempunyai kualitas otak yang tidak bodah dalam arti sempit, hal ini bisa dibuktikan dengan tradisi hafalan yang kuat dan tradisi membuat syair indah. Sehingga definisi jahiliyah ini dimaknai dari perspektif yang berbeda. Dan para pakar sepakat bahwa kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam arti khusus tentang keyakinan terhadap ketuhanan yang salah.

Kalau kita mengulang kisah bahwa keyakinan bangsa arab dulunya merupakan penganut ajaran Tauhid dari nabi Ibrahim, karena sebagian besar bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il a.s. yang menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim a.s yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya.  Setelah Nabi Ibrahim as meninggal Bangsa Arab mulai berantakan mereka mulai menyembah – nyembah berhala dan meninggalkan ajaran Nabi Ibrahim as.Dan disebutkan bahwa lama kelamaan banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran agama Isma’il as putra dari Nabi Ibrahim as meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim.


B. TAHAPAN  TURUNYA AL-QUR’AN

1. Tahap Pertama

Diturunkan dari lauhul mahfuuzh menurut cara dan waktu yang mengetahuinya hanya Allah dan siapa yang diperlihatkannya akan hal-hal yang gaib. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dan tidak terbagi-bagi. Yang demikian terlihat dari lafadnya dan dalil dari Al-Qur’an, karena firman-Nya:

وَاللهُ مِن وَّرَاءِهِم مُحِيط بَل هُوَ قُراَنُ مَّجِيدٌ فِي لَوحِ مَّحفُوظ.(البروج:20-23)
Artinya:
“ (20). Padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos), (21). Bahkan (yang didustakan) ialah al-Qur’an yang mulia, (22). Yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga ( Lauhul Mahfudzh)”. (QS. Al-Buruj: 20-23)

2. Tahap kedua 

Dari Lauhul Mahfudzh ke Baitul ‘Izzah dilangit dunia. Berdasarkan hasil bacaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang telah dibaca, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa ia diturunkan dalam suatu malam kelangit dunia. Ia disifatkan oleh al-Qur’an dengan Lailati Mubaarakatin ( malam yang diberkahi Allah). Malam itu kadang-kadang dinamakan malam Qadar. Kejadian itu pada bulan Ramadhan dan diturunkan sekaligus, diantara ayat-ayat itu ialah:

 اِنَّا اَنزَلنَاهُ فِي لَيلَةِ القَدرِ [5]
Artinya: “ Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam Qadar.

شَهرُ رَّمَضَا نَ اَّلذِي اُنزِلَ فِيهِ القُراَنَ[6]
Artinya: Bulan Ramadhan yang telah diturunkan padanya Al-Qur’an. 

3. Tahap Ketiga:

Al-Qur’an diturunkan dari Baitul ‘Izzah (langit dunia) kebumi kehati para Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Rasul SAW. Ini ialah tahap terakhir yang bercahaya padanya kemnausiaan, secara keseluruhan, bagi semua manusia dibumi. Ia dibawa oleh jibril. Ia dinamakan al-Amin atau terpercaya kedalam hati Rasulullah SAW. Berangsur-angsur dalam masa 23 tahun, sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Termasuk dalilnya ialah:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الاَ مِينِ ( الشعراء) [7]
Artinya: Turun dengannya (Al-Qur’an) malauikat jibril ke dalam hatimu (Muhammad), supaya engkau jadi pemberi nasihat, dari hadirat yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.
Jibril, sebagaimana telah kami katakan, bahwa dia adalah pengantara. Diwahyukan Allah kepadanya Al-Qur’an menurut cara yang mengetahuinya hanya Allah saja dan siapa yang diizinkan-Nya mengetahuinya. Sudah itu, maka Jibril turun dengannya kepada Rasul SAW.

وقرانا فرقنه لتقراه على الناس على مكث ونز لنه تنزيلا[8]
Artinya: Al-Qur’an itu kami turunkan ia berangsur-angsur, supaya engkau (Muhammad) bacakan ia kepada manusia perlahan-lahan dan kami turunkan ia sebenar-benarnya atau kesemuaanya.

C.    Para pencatat Al-qur’an

Rasulullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Mu’awiyah, Ubai bin ka’ab, dan Zaid bit sabit. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati. Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa di perintah oleh nabi; mereka penulisannya pada pelepah kurma, lempenngan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelanah, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin sabit berkata: “kami meyusun Qur’an dihadapan rosulullah pada kulit binatang.”[9]
Ini menunjukan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menuliskan al-Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut
Jibril membacakan alquran kepada rasulullah pada malam-malam bulan ramadlan setiap turunya. Abdullah bin Abbas berkata yang artinya:
“rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak keramahanya pada bulan ramdan ketika ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui jibril pada setiap bulan Ramadan; jibril membacakan Qur’an kepadanya, dan ketika rasulullah ditemui oleh Jibril itu ia sangat pemurah sekali.”[10]
Para sahabat senantiasa menyodorkan al- qu’an kepada rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.
Tulisan- tulisan qu’an pada masa nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abio tholib, Mu’as bin Jabal, Ubai bin Ka’b, zaid bin Sabid dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafal isi al qur’an dimasa rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa zaid bin sabid adalah orang yang terakhir kali membacakan alqur’an di hadapan nabi di antara mereka yang di sebutkan di atas.
Rasulullah berpulang ke rahmatullah di saat alqur’an telah di hafal dan ditulis dalam mushaf dengan susunan seperti yang di sebutkan di atas; ayat-ayat dan surat-surat di pisah-pisahkan, atau di terbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surat berbeda dalam satu lembaran secara terpisah dan dalam tujuh huruf,[11] tetapi Qur’an belum dikumpulkjan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun segeralah dihafal oleh qurra dan ditulis oleh para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan pembukuannya dalam satu mushaf, sebab nabi masih selalu menunggu turunya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terdapat pula ayat yang menashih  (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan alqur’an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun di tulis di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk nabi – ia menjelaskan bahwa ayat itu harus di letakkan dalam surah itu. Andaikata qur’an itu din seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun loagi. Az-Zarkasyih berkata: “ qur’an tidak di tuliskan dalam satu mushaf pada zaman nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu penulisanya kemudian sesudah al qur’an itu sudah turun semuanya, yaitu dengan wafatnya rasulullah.”
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabid yng mengatakan: “Rasulullah telah wafat, sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali. “maksudnya ayat-ayat dan serat-suratnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mkushaf. Al-Khattabi berkata: ‘Rasulullah tidak mengumpulkan al qur’an dalam satu mushaf itru Karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaanya. Sesudah berakhir masa turunya dengan wafatnya Rasulullah.. maka allah mengilhamkan penulisanya mushaf secara lengkap kepada Khullafa’ur Rasyiddin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya.[12] Dan hal ini terjadi pertama pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.”[13]
Pengumpulan qu’an dimasa nabi dinamkan:
a.       Penghafalan
b.       Pembukuan yang pertama.

D.    Apa yang diturunkan (lafadz, makna atau keduanya)

Ulama Ushul mendefinisikan sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah kalam Allah swt. yang diturunkan oleh Allah dengan perantara Malaikat Jibril ke dalam hati Rasullah Muhammad bin Abdullah dengan lafadz-lafadz (kata-kata) bahasa Arab dan dengan makna yang benar, agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa beliau adalah Rasul Allah swt dan undang-undang bagi manusia yang mengambil petunjuk-Nya, dan sebagai awal ibadah dengan membacanya, ia ditadwinkan di antara dua tepian mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah diakhiri dengan surat An-Nas, dinukilkan kepada kita dengan jalan mutawatir, baik dengan bentuk tulisan atau lisan dari satu generasi ke generasi lain, terpelihara dari segala perubahan dan pergantian (tidak seperti Al-Qur'an standard nasional yang berubah dari segi tulisan)".
Diantara keistimewaan Al-Qur'an ialah lafadz dan maknanya dari sisi Allah swt. dan lafadz yang berbahasa Arab itu diturunkan oleh-Nya ke dalam hati Rasul-Nya. Sedangkan Rasul tidak lain adalah membacakan Al-Qur'an dan menyampaikannya.
 Dari keistimewaan ini bercabanglah hal-hal seperti berikut:
a. Makna-Makna yang diilhamkan oleh Allah swt kepada Rasul-Nya dan tidak diturunkan lafadz-lafadznya, bahkan Rasulullah saw. yang mengungkapkan dengan bahasanya (lafadz) sendiri terhadap sesuatu yang diilhamkan kepadanya. Hal ini tidak dianggap Al-Qur'an. Dan hukum-hukum Al-Qur'an tetap baginya. Begitu juga tetap juga hadits Qudsi adalah diucapkan oleh Rasul yang diceritakan dari Allah tidak termasuk Al-Qur'an. Tidak pula tetap hukumnya dalam shalat dengan menggunakan hadits Qudsi.

b. Tafsir surat atau ayat dengan lafadz-lafadz Arab sebagai sinonim lafadz-lafadz Al-Qur'an, yang bisa memberikan makna seperti lafadz asalnya, tidak termasuk Al-Qur'an meskipun penafsiran itu sudah sesuai dengan makna (dalalah) yang ditafsiri. Oleh karena Al-Qur'an adalah lafadz-lafadz Arab khusus diturunkan dari sisi Allah swt.

c. Terjemah surat atau ayat ke dalam bahasa asing [14]juga tidak dianggap sebagai Al-Qur'an, meskipun dalam menerjemah itu dipelihara ketelitiannya dan penyempurnaan persesuaian makna dengan yang diterjemahkan. Karena Al-Qur'an adalah lafadz yang khusus diturunkan dari sisi Allah swt, jadi bila penafsiran Al-Qur'an atau penerjemahnya itu dianggap sempurna lantaran dilakukan oleh ulama yang sudah perpercaya agamanya, ilmu, amanah dan kepercayaannya, maka bolehlah dianggap bahwa penafsiran atau penerjemahan ini sebagai penjelas makna Al-Qur'an atau sebagai tempat kembali [15]
mengenai maknanya tetapi tidak dianggap sebagai Al-Qur'an, tidak pula tetap hukum-hukum Al-Qur'an. Maka tidak bisa dijadikan hujjah dalam bentuk ungkapannya (bahasanya) atau keumuman lafadznya maupun kemutlakannya. Oleh karena lafadz-lafadz ibaratnya (bahasanya) itu bukanlah lafadz atau bahasa Al-Qur'an, tidak sah shalat dengannya (terjemahan Al-Qur'an), begitu juga tidak dianggap ibadah membacanya.
Keistimewaan yang lain, yaitu bahwa Al-Qur'an disampaikan secara mutawatir, artinya dengan system pemindahannya yang mendatangkan pengetahuan dan kepastian kebenaran riwayat.


E.     Kesimpulan

Bangsa Arab sebelum datangnya Islam mereka sangat keliru dengan apa yang mereka semua lakukan yaitu menyembah berhala maka dari sanalah bangsa Arab dahulu disebut dengan orang – orang jahiliyah. Kata jahiliyah ini bukan berarti bodoh dalam tingkah laku atau pun fikirannya karena bangsa arab dahulu mereka mereka merantau ke penjuru negeri untuk berjualan dengan demikian tidak mungkin jika mereka bodoh. Kata bodoh di sini berarti bodoh dalam cara beribadah ke pada Allah.

Allah SWT menurunkan Al-Qur’an dengan tiga tahapan yaitu : 1. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke lauhul mahfudz tanpa terpisah – pisah. 2. Dari Lauhul mahfudz diturunkan ke baitul ‘izzah (langit dunia) ulama menafsirkan diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada malam lailatul Qadr. 3. Dari langit dunia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as dengan cara berangsur – angsur agar memudahkan Nabi dan para umatnya utuk menghafalnya dan Al-Qur’an itu turun sesuai dengan kejadian yang sedang terjadi.

Pencatat Al-Qur’an pada zaman Rasul yaitu: Ali, Muawiyah, dan Zaid bin tsabit, dan Ubai bin Ka’ab mereka yang menulis Ayat – ayat Al-Qur’an dan selain mereka para Sahabatpun menuliskan Ayat – ayat tersebut tanpa di suruh oleh Rasulullah SAW. Pada masa itu mereka menuliskan Al-Qur’an di tulang benulang, pelepah kurma, kulit hewan, di batu, dll.

Al-Qur’an adalah perkataan Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malikat Jibril as dengan cara mutawatir sehingga jelas diketahui bahwa ayat – ayat tersebut berasal dari Allah SWT. Al-Qur’an adalah lafadz dan maknanya jelas berasal dari Allah SWT berbeda halnya dengan Hadis Qudsi atau Hadis ilahi. Ulama berbeda pendapat tentang Hadis Qudsi tersebut ada sebagian ulama yang mengatakan Hadis Qudsi lafadznya dari Allah SWT sedangkan maknanya dari Rasul dengan alasan Allah SWT yang memberikan Hadis Qudsi tersebut kepada Rasul melalui mimpi atau ilham dan Rasul yang menyampaikan kepada umatnya dengan redaksi atau maknanya Rasul sendiri akan tetapi ada ulama yang mengatakan maknanya dari Allah sedangkan lafadznya dari Rasul dengan alasan Rasul menyampaikan Hadis Qudsi tersebut kepada umatnya dengan lafadznya sedangkan maknanya tersebut berasal dari Allah SWT.




Daftar Pustaka

Rifa’i. Ahmad, Tarikh Islam. Ponorogo: Darussalam Press. 1425 H
Badri. Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1993
Khalil Al-Qattan. Manna, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Semarang: Litera Nusantara. 1995
Shihab. M Quraish, Mu’jizat Al-Qur’an.  Bandung:  mizan. 2007
Zaid. Nasr Hamid Abu, Tekstualitas Al-Qur’an. Yogyakarta: LkiS. 2005

























[1] . Zaman Jahiliyah ialah suatu zaman yang mana manusia itu Bodoh dalam bidang tauhid dan beribadah kepada Allah SWT. Jadi, orang-orang pada zaman jahiliyah tidak tahu apa itu tauhid dan tidak pernah beribadah kepada Allah SWT, dan mereka beribadah kepada Berhala.
[2] Jahl suatu kata dari bahasa arab yang berarti bodoh.
[3]. ‘Ilm ialah suatu kata dari bahasa arab yang bararti berilmu / tidak bodoh.
[4]. Hilm : yang dimaksud hilm ini ialah bisa mengendalikan amarah.
[5] . Q.S Al-Qadr : 1
[6] . Q.S Al-Baqarah : 185
[7] . Q.S Assyu’ra’ : 193
[8] . Q.S Al-isra : 106
[9] Hadist riwayat al-hakim dalam al-mustadrak dengan sanad yang memenuhi persyaratan bukhari dan muslim
[10] Muttafaq ‘alaih.
[11] Mengenai tujuh huruf ini akan dijelaskan kemudian.
[12] Ini suatu isyarat kepada firman Allah: “ sesungguhny kamilah yang menurunkan Qur’an, dan kami pula akan menjaganya.”
[13] Al-itqan jilid 1 , halaman 57
[14] . (selain bahasa arab)
[15] . (tempat berpegang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar